Ragam Tanaman Obat di Hutan Batangtoru

Ragam Tanaman Obat di Hutan Batangtoru

Tidak dipungkiri lagi jika Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki hutan tropis terbesar di dunia. Hutan juga merupakan sumber alam yang sangat penting bagi kelangsungan hidup populasi.

Di dalam hutan tropis, salah satu yang paling menarik untuk ditelusuri adalah adanya tumbuhan yang berfungsi sebagai obat-obatan. Batangtoru merupakan salah satu dari sekian banyak wilayah hutan yang juga ditumbuhi oleh herbal yang berfungsi sebagai obat.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan hutan di Universitas Sumatera Utara (USU) pada 2015, ditemukan setidaknya ada 43 jenis tumbuhan obat. Dari jumlah tersebut sebanyak 36 jenis tumbuhan telah dimanfaatkan oleh masyarakat.

“Bagian tumbuhan yang paling banyak dimanfaatkan adalah daun. Penelitian ini menunjukkan bahwa keanekaragaman jenis tumbuhan obat di Hutan Batangtoru Blok Barat, Kecamatan Adiankoting tergolong sedang,” tulis penelitian yang bertajuk ‘Eksplorasi Tumbuhan Obat dan Pemanfaatannya’, yang dipublikasi di laman Repository USU.

Indonesia sendiri memiliki sekitar 30 ribu spesies tumbuhan. Sekitar 9.600 spesies diketahui berkhasiat obat-obatan. Sayangnya, baru 200 spesies saja yang dimanfaatkan sebagai bahan baku industri obat tradisional.

Penelitian sebelumnya juga mengungkap bahwa dari segi habitatnya, spesies-spesies tumbuhan obat yang terdapat di berbagai formasi hutan Indonesia dapat dikelompokkan ke dalam tujuh macam yaitu habitat bambu, herba, liana, pemanjat, perdu, pohon dan semak. Namun dalam penelitian khusus di Hutan Batangtoru ini, ditemukan jika semua jenis tumbuhan obat tersebar mulai dari pohon, semak, herba, perdu dan liana.

Dari habitus pohon, beberapa tanaman obat bernama Persea gratissima (Alpukat); Styrax benzoin (Haminjon Durame); Litsea cubeba Pers. (Antarasa); Saurauia bracteosa DC. (Pirdot), Psidium guajava (Jambu biji); Macaranga triloba Muell. Arg. (Balik-balik angin), Ficus carica L. (Sidumon-dumon), Parkia speciosa Hassk. (Petai), Cassia sp. (Recce-recce), Syzigium aromaticum (Cengkeh), Alstonia scholaris (Pulai), Artocarpus heterophyllus Lamk. (Nangka).

Dari habitus semak,  tanaman-tanaman tersebut bernama Eupatorium perfoliatum L. (Bunga-bunga paet), Imperata cylindrica L. (Alangalang), Uncaria gambir (Gambir), Sida rhombifolia L. (Sibagure).

Selanjutnya, dari habitus herba ditelusuri ada banyak, seperti Lophatherum gracile Brongn. (Rumput bambu); Ananas comocus (Nenas); Homalomena cordata Schott (Langge); Sonchus arvensis L. (Duhut begu); Impatiens balsamina Linn. (Pacar air); Emilia sonchifolia [L]. DC. (Tempuh 28 wiyang); Belamcanda chinensis [L.] DC. (Brojolintang); Colacasia esculenta (Talas); Nephentes sp. (Kantong Semar); Etlingera elatior (Rias); Hymenocalis littoralis Jacq. (Ompu-ompu); Centella asiatica (L.) Urb. (Appapaga nalomak); Curcuma domestica Val. (Kunyit); Costus speciosus (Koenig) Sm. (Tabar-tabar); Coleus amboinicus Lour. (Bangun-bangun); Selaginella doederleinii Hieron. (Cakar Ayam); Ageratum conyzoides L. (Bandotan); Polygala paniculata (Sarindan leto).

Dari habitus perdu, tanaman-tanaman tersebut bernama Curculigo sp. (Sukkit babi); Melastoma malabathricum (Senduduk); Melastoma sp. (Senduduk hutan); Morinda lucida Benth. (Rintua); Rhodomyrtus tomentosa (W.Ait) (Harimonting); Solanum ferrogium Jacq. (Rimbang); Urena lobata L.(Sappilulut); Cibotium barometz (Tandiang Nahapuluhan).

Yang paling terakhir yaitu dari habitus Liana adalah Macrosolen flammeus Danser. (Sarindan).

Semua tanaman obat itu sebagian besar telah menjadi bagian dari pengobatan tradisional yang digunakan oleh warga dan suku etnis di dalam dan sekitar Hutan Batangtoru.

 

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *