Pembangkit Listrik Tenaga Air Diandalkan Sejak Zaman Dulu

Pembangkit Listrik Tenaga Air Diandalkan Sejak Zaman Dulu

Kebutuhan listrik setiap tahun meningkat seiring dengan populasi manusia yang mulai padat. Itulah mengapa kapasitas pembangkit listrik pun semakin diperlukan sehingga energi terbarukan merupakan salah satu solusi yang menjanjikan.

Indonesia, yang wilayahnya sebagian besar merupakan kepulauan, menjadi area potensial untuk mengadopsi sistem pembangkit yang berasal dari air. Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) adalah pembangkit yang mengandalkan energi potensial dan kinetik dari air untuk menghasilkan energi listrik.

Dalam sejarahnya, tenaga air telah digunakan sejak zaman kuno untuk menggiling gandum dan melakukan tugas lainnya. Pada pertengahan 1770-an, insinyur Perancis Bernard Forest de Bélidor mempublikasikan Architecture Hydraulique yang menjelaskan mesin hidrolik sumbu-vertikal dan horizontal.

Pada tahun 1878, pembangkit listrik air pertama dunia dikembangkan di Cragside, Northumberland, Inggris oleh William George Armstrong. Pembangkit itu digunakan untuk menyalakan sebuah lampu busur di galeri seninya. Pembangkit Listrik Schoelkopf, dekat Air Terjun Niagara di Amerika Serikat, mulai menghasilkan listrik tahun 1881.

Di Indonesia, pembangkit listrik tenaga air telah mengadopsi teknologi PLTA ini sejak 1938, masa penjajahan Belanda. Lokasi yang dipilih pertama kali adalah Desa Delik, Kecamatan Tuntang, Semarang. Namanya PLTA Jelok, yang dibangun oleh Nederlandche Indische Electriciteit Maatschappij (ANIEM). Turbin di PLTA Jelok mampu menghasilkan listrik sampai 93 GWh per tahun.

Sampai saat ini, menurut data yang tersebar, Indonesia memiliki lebih dari 60 PLTA dengan 5 yang terbesar di antaranya PLTA Cirata di Jawa Barat, PLTA Sigura-gura di Sumatera Utara, PLTA Poso II di Sulawesi Tengah, PLTA Jatiluhur di Jawa Barat, dan PLTA Tangga di Sumatera Utara.

Indonesia memiliki potensi energi air hingga 75.000 megawatt (MW). Namun tingkat pemanfaatannya kurang dari 8 persen. Sehingga perlu adanya terobosan dalam mendorong pemanfaatan potensi energi air tersebut.

Potensi tenaga air di Indonesia menurut Hydro Power Potential Study (HPPS) pada tahun 1983 adalah 75 GW. Namun pada laporan Master Plan Study for Hydro Power Development in Indonesia oleh Nippon Koei pada tahun 2011, potensi tenaga air setelah menjalani screening lebih lanjut adalah 26,32 GW. Dalam Indonesian 2050 pathway calculator, angka potensi yang digunakan adalah 75 GW.

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *