Mengulik Agroforestri di Hutan Batangtoru Blok Barat

Mengulik Agroforestri di Hutan Batangtoru Blok Barat

Sistem wanatani atau agroforestri menjadi salah satu teknik berocok tanam yang dijalankan oleh penduduk di sekitar Hutan Batangtoru Blok Barat, satu bagian dari keseluruhan luas hutan Batangtoru. Warga yang menghuni kawasan blok ini masuk ke dalam kecamatan Tapanuli Selatan.

Wanatani atau agroforestri merupakan cara pengelolaan sumber daya dengan mengkombinasikan pengolahan hutan atau pohon kayu-kayuan dengan tanaman komoditas atau jangka pendek. Tanaman pertanian juga bisa menjadi alternatif. Istilah singkatnya agroforestri merupakan sistem kebun bercampur.

Efrizal Adil dalam Metamorfosa, IPB Cohort 3 pada tahun 2008 menulis bahwa masyarakat di area hutan bagian barat membuat aturan sendiri tentang tata cara berkebun menurut kaidah setempat. Anjuran dan larangan dari leluhur menjadi acuan mereka dalam bercocok tanam sehari-harinya.

Salah satu yang mereka pegang teguh sebelum bercocok tanam adalah tidak melakukan pembersihan lahan atau land clearing untuk menanam bibit karet unggul atau tanaman invasi lainnya di tanah adat atau peninggalan nenek moyang mereka tersebut.

Pemanfaatan hutan blok ini diprediksi sudah terjadi sejak abad ke-19. Agroforestri yang mereka terapkan di antaranya berbasis pada komoditas kemenyan, kopi dan karet. Sistem agroforestri ini diwujudkan dalam sistem persawahan, kebun campur dan hutan kemasyarakatan. Selain kebun campuran, secara umum agroforestri meliputi ragam lainnya, di antaranya tegalan berpohon, ladang, kebun pekarangan hingga hutan tanaman rakyat yang lebih kaya jenis. Untuk tipe yang terakhir ini bisa

dijumpai di daerah lain di Indonesia, misalnya Talun di Jawa Barat, Repong di Lampung Barat dan Parak di Sumatera Barat.

Inti dari agroforestri secara umum adalah cara petani, yang umumnya tradisional, dalam mengelola sumber daya alam untuk menghasilkan lebih dari satu jenis produk. Selain tanaman pangan utama, seperti padi atau jagung, atau berekonomi tinggi, seperti karet dan kopi, mereka menggarap lahannya untuk memproduksi tanaman pangan tambahan, semacam kayu bakar, tanaman rempah dan obat.

Untuk saat ini, sekitar 68,7% dari total hutan Batangtoru merupakan hutan produksi seluas 93.628 hektar; 12,7% hutan APL atau yang digunakan untuk pembangunan di luar hutan sebesar 17,341 hektar dan 18,6% hutan lindung (register) atau suaka alam seluas 25.315 hektar.

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *