Mengenal Lafran Pane, Pahlawan Nasional Keturunan Tapanuli Selatan

Mengenal Lafran Pane, Pahlawan Nasional Keturunan Tapanuli Selatan

Bagi kita, nama Sanusi Pane dan Armijn Pane tak lagi asing di telinga. Ya, keduanya merupakan sastrawan yang termasyur. Sanusi Pane terkenal dengan karyanya berupa kumpulan puisi dalam “Puspa Mega” dan “Madah Kelana”. Lalu Armijn Pane termasyur dengan novelnya, “Belenggu”. Beliau turut menerjemahkan surat-surat RA Kartini dan sahabatnya di Belanda, nyonya Abendanon, yang oleh Armijn Pane diberi judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Sesungguhnya dua Pane ini mempunyai adik, Lafran Pane, yang cenderung pendiam tetapi tak kalah berkontribusi bagi bangsa ini. Tiga bersaudara ini lahir dari tokoh dan budayawan Sutan Pangurabaan Pane, demikian sebagaimana disarikan dari Republika.co.id.

Nama Lafran Pane sontak meraih perhatian publik saat Presiden Joko Widodo menobatkannya sebagai Pahlawan Nasional dalam rangkaian Peringatan Hari Pahlawan 2017.

Lalu, siapakah Lafran Pane?

Lafran Pane lahir pada 5 Februari 1922 lalu meninggal dunia pada 25 Januari 1991 pada umur 68 tahun. Tokoh kelahiran Padang Sidempuan, ibukota kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara ini, berkontribusi besar dalam mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam atau HMI pada 5 Februari 1947, tulis Wikipedia. Lafran Pane memilih membela tanah air ini yang baru saja merdeka saat itu melalui jalur organisasi HMI yang ia dirikan bersama teman-temannya.

Melalui HMI, Lafran menuangkan pandangannya tentang Islam dan Indonesia. Menurutnya, tugas umat Islam tak hanya semata soal peribadatan tetapi bagaimana juga membangun masyarakat yang adil dan makmur secara spiritual dan material. Dengan mendirikan HMI, Islam mendapat peran yang lebih tinggi di antara mahasiswa, dimana Islam bukanlah sekumpulan kaum yang mempertahankan tradisi dan pengetahuan tradisional saja. HMI turut membuat ide persatuan umat Islam yang mengikis fanatisme terus bertambah.

Langkah gerak HMI tidak bisa seleluasa keinginan para pendirinya sebab pendudukan Belanda pada 19 Desember 1948 telah membungkam semua aksi pergerakan, termasuk yang berbasis kepemudaan dan kemahasiswaan. 

Meski demikian, Lafran Pane tetap konsisten mengoperasikan HMI meski hanya tinggal berdua bersama Dahlan Ranuwiharjo. Munculnya HMI pada awal kemerdekaan Indonesia mempunyai arti penting, yakni menggalang kekuatan intelektual muslim untuk membela NKRI dan juga menjadi legitimasi penerimaan Pancasila sebagai ideologi negara oleh umat Islam.

Selain memberi pandangan baru mengenai Islam dan mewujudkannya melalui HMI, Lafran Pane meninggalkan “warisan pemikiran” yang tertuang dalam karya tulis, seperti “Keadaan dan Kemungkinan Kebudayaan Islam di Indonesia”, “Wewenang Majelis Permusyawaratan Rakyat”, “Kedudukan Dekret Presiden”, “Kedudukan Luar Biasa Presiden” dan “Kedudukan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP)”.

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *