Menenun Ulos, Pilihan “Karir” di Rumah bagi Perempuan Batang Toru

Menenun Ulos, Pilihan “Karir” di Rumah bagi Perempuan Batang Toru

Pada banyak bagian di kecamatan Batang Toru, kabupaten Tapanuli Selatan, kita masih akan menjumpai perempuan lokal yang mengisi hari mereka dengan menenun kain ulos di rumah masing-masing. Sembari menunggu suami berladang atau bercocok tanam di sawah, perempuan Batang Toru tak mau tinggal diam.

Mereka berkarir di rumah sendiri dengan membuat kain tenun ulos tradisional yang indah dan sarat makna yang sudah turun-temurun mereka ketahui dari nenek moyang mereka. Kepiawaian mereka membuat ulos didapatkan dari pendahulu. Lewat tangan terampil merekalah kain ulos yang indah dan rapi tercipta.

Perempuan Batang Toru masih mempertahankan proses pembuatan dalam menenun kain ulos secara manual, tidak memakai mesin pabrikan untuk mencetak kain ulos secara massal. Jadi bisa pembeli rasakan detil hasil pengerjaan perempuan Batang Toru melalui motif, kecermatan memintal benang dan kesesuaian corak yang tertuang lewat selembar kain ulos.

Sebab dikerjakan secara manual, tak heran dibutuhkan waktu tujuh hari untuk mengerjakan satu kain ulos saja. Itu pun biasanya langsung dijual seharga Rp220 ribu. Selain butuh kesabaran, menenun ulos membutuhkan ketelitian. Jika salah dalam menenun, para perempuan ini harus mengulanginya lagi agar bisa menghasilkan kain ulos yang benar-benar bagus.

Saat kami berkunjung ke salah satu tempat pengerjaan ulos, ibu-ibu di sana mengatakan mereka sudah menenun sejak masih belum menikah hingga sekarang. Sembari bekerja, suami mereka menanam atau memanen padi di sawah. Terkadang juga menanam cabai atau bekerja sebagai pegawai dan guru.

Biasanya kalau sudah jadi langsung dijual, jadi tidak ada stok lagi jika sudah selesai dikerjakan, kata mereka.
Baca juga: Merentangkan Tenun Ulos, Memaknai Selendang Tradisi Penuh Makna

Ulos sendiri merupakan jenis kain yang sudah lama dikenal dan ditekuni oleh masyarakat Batak, Sumatera Utara. Salah satu tipe kain tradisional ini semakin populer di kalangan masyarakat Indonesia, tak hanya khusus warga Batak, berkat perpaduan warnanya yang khas, yakni merah, hitam dan putih, berikut lapisan benang emas atau perak.

Seiring dengan perkembangan tren mode busana, ulos tak hanya dipakai sebagai kain atau sarung saat acara resmi, tetapi ulos juga sudah dimodifikasi dijual menjadi dompet, sarung bantal, tas pinggang hingga dasi, tulis Wikipedia.com.

Ulos mengandung makna kehangatan yang sudah mengakar dalam budaya orang Barak dan simbol perlindungan dari mara bahaya dari ibu yang sedang hamil ke calon bayi. Tersemat juga doa agar sang jabang bayi lahir dengan selamat melalui pemberian ulos ini.

 

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *