Masyarakat Hutan Batangtoru Blok Barat yang Masih Menjunjung Tinggi Sistem Kebun Adat

Masyarakat Hutan Batangtoru Blok Barat yang Masih Menjunjung Tinggi Sistem Kebun Adat

Di kawasan hutan Batangtoru Blok Barat, jangan heran kita masih akan menjumpai banyak lahan adat atau kebun adat yang masih dikelola secara apik oleh penduduk sekitar. Kebun adat merupakan lahan milik leluhur lengkap dengan cara pengelolaan yang masih diterapkan meski zaman sudah modern. Salah satu ciri kebun adat adalah adanya tanaman utama yang lalu diselingi oleh tanaman lain. Dalam hal ini, oleh warga hutan Batangtoru Blok Barat, kebun adat bisa disebut juga sebagai kebun campur.

Pada kebun campur yang sudah tua, tanaman utama yang mendominasi biasanya tanaman keras pohon karet. Di sela-selanya, warga menanam tanaman salak, kemenyan, durian, petai, jengkol, coklat, aren, pinang, kayu manis dan lainnya. Walhasil, kondisi ini membuat kebun mereka terlihat padat dan kompleks. Efrizal Adil dalam Metamorfosa, IPB Cohort 3 pada 2008 menulis seiring dengan berjalannya waktu, teknik agroforestri seperti ini semakin penting sebab bisa membiayai kebutuhan hidup mereka sehari-hari.

Seluruh jenis tanaman tersebut bercampur, ditanam dalam wilayah yang sama sehingga membentuk sebuah kawasan yang mirip dengan hutan dengan tutupan kanopi mencapai hampir 60%. Menurut masyarakat, tanaman perkebunan campuran ini, kecuali kopi dan kakao, sudah ada secara turun temurun ditanam para pendahulu mereka. Menurut Abdul Hamid Damaik dalam Kondisi Terkini Upya Mendorong Partisipasi Masyarakat Untuk penyelamatan orangutan dan habitatnya di DAS Batangtoru, apa  yang mereka lakukan dalam mengelola hasil perkebunan juga berdasarkan budaya tradisional yang mereka terima secara turun temurun.

Sedangkan lahan pertanian yang mereka garap biasanya berteras. Saluran air yang sudah ada sejak ratusan air masih mereka manfaatkan untuk mengairi sawah dan lahan mereka sehingga hasilnya bisa maksimal dan mampu mengangkat ekonomi warga. Umumnya laki-laki di desa bekerja di kebun sedangkan perempuan banyak membantu dengan mengurusi tanaman padi dan palawija di sekitar kampung mereka.

Sementara karet, kopi dan kakao bisa dijual sebagai komoditas bernilai tinggi, bahkan untuk keperluan ekspor, padi dan palawija bisa mereka konsumsi sebagai makanan pokok sehari-hari. Jika berlebih, padi dan palawija bisa mereka jual ke pasar sebagai tambahan penghasilan.

Kehidupan di desa di sekitar hutan Batangtoru Blok Barat masih bergantung pada sektor pertanian dan perkebunan. Selain menjunjung tinggi aturan nenek moyang dalam bercocok tanam, mereka menerapkan satu kearifan lokal yang juga didorong oleh pemerintah. Aturan itu yakni tidak melakukan pembersihan lahan untuk menanam bibit karet unggul dan tanaman invasi lainnya di tanah adat mereka.

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *