Masyarakat Batangtoru Rasakan Manfaat Multiplier Effect

Masyarakat Batangtoru Rasakan Manfaat Multiplier Effect

Tambang Emas Martabe di Desa Aek Pining, Kecamatan Batangtoru, Tapanuli Selatan (Tapsel)-Sumut terus melangkah seiring dengan dukungan masyarakat dan para pemangku kepentingan.

Hubungan mutual pun terjalin di dalamnya, daerah sekitar mulai maju seiring dengan perkembangan aktivitas operasional Tambang Emas Martabe, terutama pada pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal yang dipicu oleh lahir dan berkembangnya usaha-usaha baru (multiplier effect).

Sejak masa eksplorasi hingga berjalannya fase produksi saat ini, jenis usaha baru mikro dan kecil (UMK) bermunculan di Kecamatan Batangtoru, Muara Batangtoru dan sekitarnya seperti warung, rumah makan, salon, toko sandang, pangan, toko serba ada, dan toko jual beli handphone.

Kemudian berdirinya rumah-rumah kontrakan dan kost, depot air mineral isi ulang, apotik dengan ketersediaan obat yang lebih variatif dan lengkap, usaha jasa perbengkelan mobil, showroom motor dan penawaran kredit motor hingga berdirinya jasa perhotelan.

Kondisi itu pun mendorong peningkatan jumlah alat dan arus transportasi seperti becak motor, angkot dan bus antarkota, munculnya SPBU hingga berdirinya tower provider jaringan telekomunikasi seperti Telkomsel, Indosat dan XL Axiata dan lainnya.

Kegairahan ekonomi yang timbul itupun telah dilihat lembaga keuangan. Jika awalnya hanya ada Bank BRI dan Bank Sumut, saat ini Bank BNI dan Bank Syariah Mandiri sudah memiliki kantor cabangnya di Batangtoru.

Pimpinan Bank Syariah Mandiri (BSM) Aswin Siregar mengakui salah satu alasan hadirnya pihaknya di sana sejak 2011 adalah karena kegairahan ekonomi di Batangtoru. “Bayangkanlah empat bank ada di satu kecamatan ini, pasti bisa dinilai¬† kenapa itu terjadi,” ujar Aswin.

Selain dari karyawan serta kontraktor, BSM ditopang oleh dukungan masyarakat setempat. “Kalau bicara kehadiran Martabe, ya pasti adalah pengaruh positifnya ke ekonomi masyarakat. Kami bagian dari yang memanfaatkan potensi pertumbuhan ekonomi itu,” katanya.

Di samping menjadi pemicu tumbuhnya berbagai usaha di Batangtoru dan Muara Batangtoru, Tambang Emas Martabe juga terus dipercaya oleh ribuan masyarakat sekitar untuk mengembangkan potensi dirinya dalam dunia kerja industri tambang profesional.

Artinya bahwa dulu di Batangtoru, jenis usaha didominasi perkebunan milik pemerintah dan swasta. Namun sekarang variasi usaha sudah banyak muncul dan berkembang. Tingkat pemikiran dan karakter masyarakat pun, umumnya sudah berkembang ke arah yang lebih positif dan kompetitif.

Seorang perwakilan warga, Mhd Amri Harahap dari Desa Hapesong Baru, Batangtoru bahkan tidak menampik kontribusi positif selama ini dari tambang bagi desanya khsususnya dan bagi desa-desa lingkar tambang lainnya.

“Kalau kontribusi positif ada. Saya harus mengatakan yang sebenarnya. Banyak warga dibantu, semisal bangunan ibadah, jalan, jembatan dan lainnya. Namun, tambang harus terus komitmen dengan pengelolaan limbahnya karena menyangkut keselamatan lingkungan dan juga penempatan dana CSR yang harus tepat sasaran,” katanya.

Hingga bulan Oktober 2013, jumlah karyawan tambang mencapai 2.347 orang, di mana 1.538 di antaranya direkrut dari daerah sekitar Tambang Emas Martabe. Prioritas perekrutan tenaga kerja lokal terus dilaksanakan seiring dengan komitmen perusahaan. Perekrutan ini disesuaikan dengan kompetensi tenaga kerja dan kebutuhan perusahaan.

Manfaat lain yang muncul dengan keberadaan Tambang Emas Martabe adalah setidaknya kini terdapat 30 pemasok lokal dan penyedia jasa dari kalangan masyarakat sekitar Batangtoru dan Muara Batangtoru yang menjadi mitra kerja perusahaan.

Menurut Katarina Siburian Hardono, Senior Manager Corporate Communications-Tambang Emas Martabe, para pengusaha lokal ini menjadi mitra Tambang Emas Martabe dalam pemenuhan kebutuhan barang dan jasa yang antara lain meliputi penyediaan bahan makanan, sayuran, buah-buahan, alat tulis kantor, peralatan keselamatan kerja, maupun jasa penyewaan kendaraan, pemeliharaan taman, konstruksi bangunan dan lain-lain.

Tercatat selama tahun 2012, pembelian barang yang disuplai oleh pengusaha lokal mencapai Rp 17,8 miliar. Sementara nilai kontrak pada penyerapan jasa lokal mencapai Rp 113,7 miliar. Jumlah ini akan terus meningkat secara signifikan, seiring dengan kemajuan dan pertumbuhan operasional Tambang Emas Martabe.

Martabe, lanjut Katarina memberikan kesempatan yang sama pada para pengusaha lokal untuk ambil bagian dalam proses operasional Martabe, seiring dengan upaya peningkatan kapasitas kewirausahaan mereka.

Sebagai rangkaian dari program CSR, Tambang Emas Martabe juga menginisiasi pembangunan ekonomi berbasis desa yang antara lain diwujudkan dalam kegiatan pemberian bantuan sarana pendukung budidaya perikanan air tawar, penguatan koperasi, penyediaan benih padi, dan peralatan pertanian.

Pemberian bantuan ini juga diselaraskan dengan kegiatan pelatihan bagi petani, seperti pembuatan kompos, budidaya karetdan bagi para peternak ikan agar mereka mampu mengembangkan usahanya. Bagi para ibu-ibu, Tambang Emas Martabe memberikan stimulant dalam pembentukan Kelompok Usaha Bersama (Kube) Rumah Kue melalui pelatihan dan pemberian bantuan modal alat membuat roti.

Kegiatan ekonomi lokal juga tidak terlepas dari program pembangunan infrastruktur, seperti perbaikan jalan dan jembatan, pembangunan penampungan dan pemipaan air bersih, pembangunan fasilitas sumur bor dan fasilitas sanitasi mandi cuci, termasuk perbaikan sarana pendidikan dan kesehatan.

Presiden Direktur Peter Albert menyatakan, pihaknya berharap melihat sekitar tambang semakin maju pesat dengan peningkatan nyata kualitas kehidupan dan generasi mendatang.

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *