Karet, Urat Nadi Penghidupan Warga Sekitar Hutan Batangtoru

Karet, Urat Nadi Penghidupan Warga Sekitar Hutan Batangtoru

Hutan Batangtoru menjadi sumber rezeki seolah tanpa batas bagi penduduk tiga kecamatan di Kabupaten Tapanuli, Kabupaten Sumatera Utara. Tempat dimana hutan ini membentang seluas 133.841 hektar.

Keanekaragaman hayati yang terdapat dalam hutan tersebut sudah dimanfaatkan oleh warga, khususnya yang tinggal di sekitar Blok Barat hutan Batangtoru, Kecamatan Tapanuli Selatan. Salah satu komoditas yang tumbuh subur di situ adalah pohon karet.

Budidarsono dalam laporan penelitiannya berjudul “Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Bentang Alam Orangutan di DAS Batangtoru” (2006) menulis kemungkinan sejak awal abad ke-19, penduduk sekitar blok tersebut telah menggunakan sumber alam di hutan tersebut untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari, seperti agroforestri yang berbasis pada komoditas kemenyan, kopi dan karet.

Lahan pun mereka garap secara beragam, mulai dari sawah, kebun campur hingga hutan kemasyarakatan. Sistem kepemilikan tanah secara adat masih dipegang teguh pada beberapa lokasi. Budidarsono menambahkan kondisi lereng yang curam dengan tanah relatif kurang subur dapat disiasati oleh 90% penduduk tersebut melalui berbagai sistem pertanian berbasis pohon secara dinamis.

Contoh sistem tersebut, di antaranya agroforestri/ wanatani karet tua, agroforestri durian, monokultur karet, pekarangan rumah berbasis tanaman coklat, agroforestri pinang–coklat, agroforestri gmelina–jati–kayu manis, agroforestri padi ladang–pisang–ubi–coklat dan agroforestri karet–salak.

Hasil berkebun dan bertani lalu diolah menjadi bahan-bahan pokok seperti beras, gula aren, glondongan karet, pinang, kulit manis, dan lainnya. Usai dipanen, hasil tersebut ada yang diserahkan ke pengusaha kecil atau agen, yang kemudian dijual ke agen yang lebih tinggi. Biasanya mereka ini ada di pasar kecamatan dan ibukota kabupaten.

Selain masyarakat setempat yang memanfaatkan hasil kebun, termasuk karet, secara swadaya dan skala kecil, pemerintah turut membuka usaha perkebunan di situ, tak terkecuali menggarap karet di kawasan Hutan Batangtoru. PT Perkebunan Nusantara III (Persero), yang dibentuk pada 14 Februari 1996, merupakan BUMN yang bertanggung jawab atas penggabungan kebun di wilayah Sumatera Utara dari eks PTP III, PTP IV dan PTP V.

PTPN III ini menaungi 32 usaha kebun, salah satunya kebun karet di kawasan Batangtoru. Dari total 166.909,94 hektar kawasan konsesi yang digarap oleh PTPN III, tanaman karet mempunyai porsi lahan 45.327 hektar untuk keseluruhan wilayah perusahaan tersebut, tak hanya di Batangtoru saja. Dari 45.327 hektar tersebut, PTPN III turut mengelola areal Plasma tanaman karet milik petani seluas 9.150 hektar.

Karet merupakan salah satu komoditas andalan ekspor Indonesia. Komoditas ini mayoritas disuplai oleh lima provinsi, yakni Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Riau, Jambi dan Kalimantan Barat. Indonesia menjadi negara produsen karet terbesar kedua di dunia setelah Thailand, demikian menurut data dari indonesia-investments.com, dimana petani karet kecil memberikan andil kontrobusi hingga 80%. Luas perkebunan karet nasional telah bertambah secara konsisten selama satu dekade terakhir. Pada 2016, perkebunan karet Indonesia mencapai luas total 3,64 juta hektar

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *