Beberapa Faktor yang Sebabkan Sulit Memanfaatkan Potensi ‘Nganggur’ PLTA 75 Ribu MW

Beberapa Faktor yang Sebabkan Sulit Memanfaatkan Potensi ‘Nganggur’ PLTA 75 Ribu MW

Indonesia yang dikenal sebagai negara dua musim dianugerai stok air dan matahari yang berimbang. Kondisi inilah yang membuat negara ini sebenarnya mempunyai potensi air sebagai energi, sebagaimana yang telah dimanfaatkan oleh pemerintah dan pihak swasta membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air atau PLTA di seluruh tanah air.

Sayangnya, dari total potensi energi PLTA sebesar 75 ribu megawatt (MW), kurang dari delapan persennya yang sudah dimanfaatkan menjadi sumber energi. Kepada beritasatu.com, CEO & Presiden Andritz Hydro Josef M Ullmer mengatakan rendahnya pemanfaatan PLTA dikarenakan keberadaan potensi jauh dari lokasi kebutuhan listrik. Selama ini kebutuhan listrik terbesar ada di pulau Jawa sedangkan potensi energi PLTA tersebar di seluruh penjuru nusantara.

Ismet Rahmad Kartono, Generation Specialist PT Poso Energy, anak usaha PT Bukaka Teknik Utama, kepada kompas.com mengatakan hambatan lainnya adalah soal permodalan. Ia mengatakan saat ini rata-rata pembiayaan dari bank sekitar tujuh tahun padahal proyek konstruksi, seperti PLTA, rata-rata mempunyai periode payback sekitar 15 tahun.

Belum lagi, kata Ismet, faktor alam. Bukan perkara mudah membangun PLTA, yang bisa berlokasi di atas pegunungan atau daerah yang sulit dijangkau. Diperlukan studi mendalam untuk mengukur kadar air pada bendungan atau sumber air mengalir sekali pun. Sedangkan faktor lainnya adalah soal aturan yang saat ini sedang gencar dilakukan oleh pemerintah mengenai energi baru dan terbarukan. Biasanya benturan terjadi antara pihak regulator atau pemerintah dengan lembaga swadaya masyarakat atas alasan pengrusakan alam dan habitat jika dibangun PLTA.

​Pemerintah sendiri telah menandatangani perjanjian untuk membatasi efek gas rumah kaca dan meningkatkan penggunaan energi bersih melalui Kesepakatan Paris sejak 2015. Indonesia berkomitmen mencapai target bauran energi hingga 23% pada 2025, setara dengan 35 ribu MW. Direktur Institute for Essential Services Reform, Fabby Tumiwa mengatakan,setidaknya diperlukan dana Rp 1.200 triliun-Rp 1.600 triliun untuk mencapai target 23 persen energi terbarukan dalam bauran energi nasional pada 2025.

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *